Oleh: aahakim | Oktober 29, 2010

Welcome

Oleh: aahakim | Oktober 8, 2010

Link Soal-soal Komputer SDIT Insan Mandiri

Untuk anak-anakku SDIT Insan Mandiri Jakarta, silahkan download soal-soal komputer berikut disini.


Suatu hari dalam sebuah perjalanan bus antar kota Semarang-Yogyakarta, ada seorang ibu menggendong bayinya menyetop bus yang sudah penuh sesak. Sayangnya, sepanjang perjalanan, bayi itu terus menerus menangis hingga mengganggu semua penumpang. Entah setan mana yang membisiki hati semua penumpang dan awak bus, tega-teganya mereka sepakat menurunkan ibu dan bayi dalam gendongannya di tengah jalan. Sebab mereka merasa dengan menurunkan ibu dan bayinya bisa meneruskan perjalanan dengan tenang.

Dengan tertatih-tatih si ibu berdiri di pinggir jalan mencoba menyetop kendaraan yang lewat. Setelah mendapatkan tumpangan dan berjalan beberapa kilometer, tiba-tiba jalanan macet luar biasa. Rupanya ada kecelakaan maut yang merenggut nyawa seluruh penumpang sebuah bus di depan. Ketika kendaraan yang dinaiki ibu itu melewati bus maut tersebut, terkesiaplah dia. Rupanya bus yang hancur dan penumpangnya tewas itu adalah bus yang tadi dinaikinya dimana dia diturunkan oleh awak bus itu di tengah jalan gara-gara tangis bayinya. Rupanya Allah SWT memberi kasih sayangnya lewat tangisan bayinya dan melepaskannya dari maut. Tak henti-hentinya dia bersykur kepada Allah SWT. Apa jadinya bila dia tadi masih tetap ada di bus itu ?

———————————————————————————-

Sahabat, Bisa saja Anda kecewa dan marah-marah dengan orang yang menyakiti Anda. Tapi siapa tahu justru dengan kejadian tersebut Anda telah diselamatkan oleh Allah SWT dari musibah yang jauh lebih berat yang Anda belum tahu. Semua hal mungkin saja terjadi.

Karena itu pandai-pandailah mencari hikmah di balik sebuah musibah dan jangan lupa bersabar. Kecewa itu manusiawi, tapi putus asa adalah dosa. Ketahuilah bahwa Allah SWT itu Maha Adil. Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Yakinlah pada Allah SWT yang telah mengatur kehidupan ini dengan sempurna.
Wallahu a’lam

Oleh: aahakim | September 23, 2010

Mengapa Harus Marah!

Siapapun kita, bisa belajar untuk menjadi orang yang kuat dengan mencoba untuk bisa menahan amarah setiap kali ada perasaan yang membuat kita jengkel atau kecewa. Memang, amarah itu manusiawi, kerap kita mengalaminya. Hanya saja, kita perlu mengelola dan mengendalikan amarah kita agar tidak terlalu keluar. Mengapa?  Karena dengan hobi marahnya kita, justru akan membuat citra yang buruk tentang diri kita. Mana ada pemarah menjadi idola, atau sosok yang menyenangkan. Dimana-mana seorang pemarah itu dibenci oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan kerap dicap sebagai biangkerok dan pengacau.

Setiap orang mungkin pernah marah. Hanya saja model marahnya itu berbeda-beda. Ada yang meluapkan amarahnya dengan meledak-ledak, mengungkapkan kata-kata kasar sambil melempar dan membanting sesuatu, atau ada yang meluapkan amarahnya cukup dengan sikap diam saja.

Satu hal yang pasti, dalam ilmu kesehatan, marah itu bisa mengundang dan mudah terkena penyakit. Di dalam darah orang yang sedang marah terkandung banyak hormon adrenalin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ini akan dilepaskan ke dalam darah ketika ada rangsangan emosi. Akibatnya adalah denyut jantung akan bertambah cepat dan tekanan darah meninggi, keadaan ini yang mengakibatkan penyakit mudah datang. Ini sedikit efek marah yang saya ketahui dari beberapa bacaan kesehatan.

Saya sendiri pernah marah secara meledak-ledak. Tapi, menurut pengalaman saya, marah yang meledak-ledak itu kadang memang lebih banyak berdampak buruk. Bagi diri kita, dari sisi psikologis, tentu mempertaruhkan citra akan kepribadian yang jelek Bagi orang lain, jelas, ketika meluapkan amarah terlalu berlebihan, seringkali begitu menyakitkan bahkan berujung pada dendam. Kadang dendam ini juga menjadi awal bagi orang lain untuk melakukan pembalasan. Banyak kan kita baca disurat kabar atau berita televisi, ada orang yang melakukan pembunuhan atas dasar dendam karena pernah disakiti.

Dalam kehidupan keluarga, mudah ditemui orang tua yang marah besar dipicu oleh kesalahan biasa yang dilakukan anaknya, suami yang secara emosional menganiaya istrinya hanya dipicu masalah-masalah kecemburuan dan pertengkaran rumah tangga. Suami atau istri yang marah kepada pasangannya dan tega melampiaskan kemarahannya dengan menganiaya pasangannya, bahkan anaknya sendiri. Dalam pekerjaan, ada pimpinan yang marah-marah besar hanya dipicu oleh kesalahan kecil bawahannya. Dalam kehidupan sehari-hari, mudah ditemui orang yang marah-marah dijalanan karena dipicu oleh sikap pengguna lalu lintas yang kurang disiplin atau saling baku hantam hanya gara-gara saling tersinggung.

Mengapa belakangan ini semakin banyak orang yang mudah sekali dipicu emosi amarah? Mengapa mereka seakan tidak memiliki hati nurani kemanusiaan, padahal sebagian dari mereka adalah orang-orang berpendidikan atau bahkan aparat keamanan pengayom masyarakat?

Sahabat semua, memiliki emosi amarah adalah manusiawi dan merupakan hal yang wajar, sejauh itu dapat dikelola dengan benar, tepat waktu dan tepat sasaran sehingga tidak merusak orang lain. Karena emosi amarah adalah salah satu watak dasar manusia. Menjadi hal yang aneh bila ada seseorang yang mengatakan tidak punya rasa marah. Karena sesungguhnya rasa marah merupakan bentuk kekayaan bathin kita sebagai manusia. Namun bagi mereka yang tidak mendengarkan suara hati nuraninya, akan mudah dikendalikan nafsu amarahnya. Mereka menjadi budak nafsu dari amarahnya.

Berbeda dengan mereka yang memiliki kecerdasan hati nurani, memiliki kepribadian cerdas dan tenang, mereka dapat mengendalikan reaksinya agar tidak menjadikan kemarahan sebagai tindakan yang agresif, merusak danmenimbulkan kebenciaan. Kemampuan seseorang untuk menguasai diri, kemampuan untuk menghadapi badai emosional dengan kesabaran, kemampuan mengendalikan dorongan hati yang dikuasai emosi dan bukannya membiarkan dirinya dikendalikan atau menjadi “budak nafsu” merupakan salah satu kunci rahasia kebijaksanaan. Kemampuan seperti ini dijunjung tinggi sejak zaman nabi Adam sampai dengan nabi akhir zaman Muhammad saw dan selalu dibawa dalam setiap pajaran beliau.

Kalau dalam istilah Yunani kuno dikenal dengan istilah “sophrosyne” atau “hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan, keseimbangan dan kebijaksanaan yang terkendali”, sebagaimana diterjemahkan oleh Page Du Bois yang dikutip oleh Daniel Goleman. Tujuannya adalah keseimbangan emosi, bukan menekan emosi. Karena setiap perasaan memiliki nilai dan makna. Sebagaimana yang diamati oleh Aristoteles, bahwa yang dikehendaki adalah emosi yang wajar, keselarasan antara perasaan dan lingkungan.

Mengendalikan emosi berarti dapat menjaga keselarasan antara perasaan dan lingkungannya. Kemampuan seperti ini memiliki nilai sangat penting bagi peningkatan kualitas kepribadian seseorang. Demikian pentingnya dalam mengendalikan amarah ini, maka ketika Muhammad Rasulullah saw didatangi oleh seorang sahabatnya yang memintanya untuk memberikan nasehat, wasiat beliau adalah, ”Janganlah kamu melampiaskan amarah.” Dan kata-kata itu diulanginya lebih dari satu kali.

Makna dari nasehat ini bukanlah maksud beliau untuk melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari watak dasar manusia yang pasti ada. Makna dari nasehat Muhammad saw ini adalah berusahalah menguasai diri ketika muncul rasa marah. Supaya emosi kemarahan itu tidak menimbulkan dampak yang merugikan orang lain maupun diri sendiri. Inilah inti dari nasehat dalam meraih kebijaksanaan hidup.

seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.

Bagaimana dengan emosi amarah yang ada dalam diri Anda sendiri ? Apakah sudah dikelola dengan baik? Bagaimana mengekspresikan emosi kemarahan yang tanpa menimbulkan sakit hati ? Bagaimana mengelola emosi dalam diri agar mencapai kebijaksanaan.

Makanya, kalau terpaksa marah, sekedarnya saja. Saya sendiri berusaha memilih diam ketika sedang marah kepada seseorang. Kalau ada teman yang saya diamkan, kadang bertanya sesuatu saya cuekin saja, itu tandanya saya sedang marah. Dan ternyata, ini seni marah yang jitu. Kadang teman saya pelan-pelan mengerti maksud sikap saya melakukan itu. Kalau diluapkan secara berlebih, kadang malah membuat suasana menjadi rumit, ribet dan panas. Ah, semoga saja kita semua bisa belajar mulai dari sekarang untuk bisa mengelola amarah agar bisa menjadi seorang yang kuat. dengan marah, kita melakukan pengambilan pada saldo rekening bank emosi kita, yang akan menyebabkan kerenggangan hubungan kita dengan orang laian.

Orang kuat itu bukan orang yang badannya besar dan kekar. Orang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya”

“Anda tidak dihukum karena kemarahan anda, anda dihukum oleh kemarahan anda”

Orang yang berdoa tetapi tidak berusaha adalah seperti orang yang menembakkan panah tanpa tali busur. (Ali Bin Abi Thalib R.A.)

“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

“Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Turmudzi).

“amarahah adalah pencuri yang mencuri saat-saat manis anda.” (Joan Lunden)

Ia yang bijak akan merasa malu, jika kata-katanya lebih baik daripada tindakannya. (Kung Fu-Tze)

Oleh: aahakim | September 22, 2010

Benteng Keutuhan Rumah Tangga

Bagaimana cara menjadi muslim yang terbaik? Mungkin orang akan menyuguhkan kriteria ubudiyah yang tinggi: Sholat malam tak pernah putus, puasa senin kamis tak pernah tertinggal, minimal sekali dalam sebulan harus khatam Al-Qur’an, dsb. Tapi kenyataannya Rasulullah tidak selalu mengajukan kriteria seperti itu.

Kadang Rasulullah mengajukan kriteria: “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR Muslim)

Dan pernah juga Rasulullah menyebut kriteria lain: “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya”. (HR Tirmidzi)

Ternyata bagi seorang suami, media untuk menjadi muslim yang terbaik itu sangat dekat: pada “tulang rusuknya”. Keberhasilan menjadi muslim yang terbaik berbanding lurus dengan akhlak kepada istri. Semakin baik akhlak seorang suami kepada istri, semakin baik ia di mata Allah swt. Hikmah kriteria ini adalah akan terbentuknya keluarga yang utuh dan harmonis dalam naungan ridho Allah swt. Ketika seorang suami berusaha menjadi yang terbaik dengan cara menyempurnakan akhlaknya kepada istri, diharapkan akan ada respon yang baik dari istri yaitu pelayanan yang sempurna kepada suami. Dan ini akan menambah rasa kasih sayang di antara mereka. Anak-anak pun akan mendapat ketauladanan yang indah dari akhlak ayahnya. Di samping itu, hubungan orang tua yang mesra sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang besar dalam keluarga yang utuh jelas punya peluang untuk mendapat didikan yang lebih baik daripada anak yang besar dalam keluarga yang broken home. Kalau mau ditarik lebih jauh hikmah dari kriteria ini, akan berdampak pada masyarakat, negara, dan dunia. Karena kumpulan keluarga yang muslim akan membentuk masyarakat yang damai. Masyarakat yang damai akan membentuk negara yang sejahtera. Dan seterusnya. Semua itu berpangkal pada akhlak seorang suami sebagai pribadi muslim. Itulah hikmah kriteria “akhlak kepada istri”, dampaknya bisa luar biasa.

Bagaimana menjaga keutuhan keluarga? Biasanya akan dijawab: dengan cinta. Memang banyak pasangan yang sudah punya modal cinta saat membangun rumah tangganya, tapi kenyataannya tetap banyak terjadi perceraian dan perselingkuhan. Cinta sudah selayaknya ada dalam rumah tangga, tapi kalau anda sudah menikah, rasanya anda akan sepakat bahwa akhlak lah yang menopang keutuhan rumah tangga. Saya menemukan artikel yang menyebutkan bahwa hormon cinta hanya bertahan selama 4 tahun. Penelitian tentang itu diungkapkan oleh para peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis. Sependek itu. Tapi saya yakin, durasi bertahannya rasa cinta akan berbeda pada tiap orang. Yang jelas, cinta itu bisa hilang!!! Karena itu akan sangat riskan apabila rumah tangga hanya didasari oleh rasa cinta. Karena saat cinta itu hilang, maka ambruk lah bangunan rumah tangga itu. Bahkan walau pun masih ada cinta di antara pasangan suami istri, namun kalau dalam keseharian mereka tidak mampu saling menunjukkan akhlak yang baik dalam hubungannya, maka rumah tangga itu tetap terancam rubuh. Bahkan akhlak yang buruk itu mempercepat musnahnya cinta. Kasih sayang bisa bersemi di atas akhlak yang kokoh. Bila suami memperlakukan istri dengan baik, dan istri membalas dengan pelayanan yang menyenangkan, maka saat itu lah do’a seorang pria yang minta dikaruniai istri dan anak-anak yang menjadi ‘cahaya mata’ (qurrota a’yun) terwujud. Akhlak adalah benteng keutuhan rumah tangga.

Akhlak itu harus dimiliki oleh kedua pasangan, bukan hanya suami saja. Akhlak seorang istri kepada suami adalah saat ia menaati suaminya. Dan itu menjadi kewajiban yang tak boleh disepelekan.

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (Al-Baqarah: 228).

Rasulullah bersabda, “Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim)

Bahkan penyebab wanita banyak menjadi penghuni neraka adalah karena akhlaknya yang buruk kepada suami. Seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw: “Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami’”. (HR Bukhori) Perkara yang mungkin sepele: mengabaikan kebaikan suami, bisa berakibat sangat fatal. Dalam suatu sabda Rasulullah saw: “…dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma) Berterima kasih atas kelebihan pasangan, dan sabar atas kekurangannya. Itu merupakan kunci akhlak dalam rumah tangga. “Tahu berterima kasih” bukan cuma diharuskan untuk istri, bahkan sikap itu harus dimunculkan oleh suami manakala terbersit ketidak-puasan terhadap istrinya. Allah berfirman, “…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa : 19) Begitulah tips yang diberikan oleh Allah kepada suami untuk mempertahankan rumah tangganya: bersabar dan memperhatikan kebaikan yang dimiliki oleh pasangan.

Salah satu akhlak seorang suami yang mengokohkan rumah tangganya adalah ekspresi yang tidak terus terang saat menemukan kekurangan istri. Ia menyembunyikan kekecewaannya sehingga bisa menjaga perasaan istrinya. Seperi saat merasakan ada yang kurang dari masakan istrinya, seorang suami bisa menunjukkan akhlak yang baik saat ia malah memuji masakan itu. Berdusta dalam rumah tangga – selama dalam kerangka kebaikan – diperbolehkan. Ummu Kultsum rha. berkata, “”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya.” (HR Muslim) Ada cerita yang penuh hikmah tentang suami yang berekspresi normal saat melihat ketidak-sempurnaan istrinya, yang diceritakan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”.

Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?” Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya. Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian. Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.

Berkata ulama salaf: “Seorang suami yang sholih, bila dia mencintaimu maka bersyukurlah kepada Allah. Bila dia tidak menyukaimu, maka dia pasti tidak akan menzholimimu.” (Seperti dikutip dari tulisan ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di milis nashihah)

Untuk Istriku, mohon maaf atas segala kekurangan akhlakku, selama pernikahan kita. Tapi aku akan terus berusaha menyempurnakannya.

Oleh: aahakim | April 28, 2009

Resep Obat Penyembuh Dosa

Seorang badui datang pada seorang dokter.
Orang badui itu bertanya.”Apakah dokter punya resep obat untuk menyembuhkan penyakit dosa?”
Dokter menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir lalu menjawab,
“Dengarkan resep ini. Jika kamu kerjakan maka kamu dapat penyembuhan dari Allah”.

Ambillah AKAR-AKAR KEMELARATANmu dan JIWA KESABARAN…
Lalu campurkan dengan BUBUK PIKIRAN,
dan dicampur (kadarnya sama) dengan RENDAH HATI dan KEKHUSYYUKAN,
kemudian ditumbuk semua dalam lumpang TAUBAT dan dibasahi dengan AIR MATA, lalu ditempatkan dalam tempat RENDAH DIRI kepada Allah dan dimasak dengan api TAWAKKAL kepadanya.

Setelah itu aduk dengan sendok ISTIGHFAR sehingga tampak TAUFIQ dan KEHORMATAN DIRI.
Kemudian , pindahkan kemangkok CINTA dan dinginkan dengan udara KASIH SAYANG.
Sesudah disaring dengan saringan KESUSAHAN dan ditambah dengan hakikat IMAN serta campurkan dengan TAKUT kepada Allah.
Terus minum obat itu SELAMA HIDUPMU dan HATIMU akan SEMBUH dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dan dosa.

(Oleh ELVI ZUHAILINA @ Discussion Board)

Oleh: aahakim | April 28, 2009

Benteng Dunia

Seorang hamba Allah turun dari gunung berkelana melewati beberapa desa.
Di desa pertama dia melihat rumah kosong yang penuh dengan emas.
Kemudian iblis menggodanya,”Ayo curi! Itulah yang akan membuatmu kaya!”
Tapi si hamba Allah menjawab ,”Tidak sebab rumahku sangat dekat!”

Didesa kedua , hamba Allah itu melihat seorang wanita penghibur sedang duduk diatas sebuah batu sambil tersenyum menggoda.
Iblis lalu membujuk, “Ayo dekati! Itulah yang akan menyenangkan tubuhmu!”
Tapi, sihamba Allah menjawab, “Tidak sebab rumahku sangat dekat!”

Didesa ketiga , hamba Allah itu melihat perselisihan antara dua kelompok.
Kemudian hamba Allah itu diminta untuk menjadi saksi atas mereka.
Iblis kembali menggodanya, “Ayo dusta! Tidak ada kerugian bagimu kalaupun engkau berdusta atas mereka!”
Tapi si hamba Allah menjawab, “Tidak, sebab rumahku sudah dekat!”

Begitu seterusnya sampai desa keseratus hingga membuat iblis heran,
katanya, “Engkau selalu menolak godaanku dan mengatakan kalau rumahmu sudah dekat. Tapi aku sudah mengikutimu sampai desa yang keseratus dan engkau masih juga berkelana. Sesungguhnya dimana rumahmu?”
Lalu hamba Allah itu menjawab, “Ketahuilah, RUMAHKU adalah KUBUR dan GERBANGNYA adalah KEMATIAN. Aku katakan dia sangat dekat karena aku tidak pernah tahu kapan aku akan masuk kedalam rumahku itu. Boleh jadi saat aku berbuat dosa, kematian datang menjemput. Oleh karena itu, aku selalu ingat pada kematian dan takut untuk mengikuti godaanmu.”

Iman Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, “Apakah yang paling dekat dalam hidup ini? Ternyata jawabnya adalah kematian karena kita tidak pernah tahu kapan kematian itu datang.
Tidak ada yang bisa menjamin kalau diri kita masih hidup besok pagi, atau bahkan 5 menit kedepan.
Kematian datangnya tiba-tiba tanpa permisi. Tidak sedikit orang meninggal diatas perut wanita penghibur saat sedang berzina , meninggal saat minum minuman keras dan saat mengkonsumsi narkoba.
Naudzubillahi minzalik.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang paling cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian. “mengapa?”
Karena ingat pada kematian inilah yang akan membuat seseorang takut melakukan perbuatan dosa.
Inilah benteng didunia dari berbuat dosa karena takut jika kematian ternyata datang menjemput dirinya saat dia sedang berbuat dosa.
Seperti cerita hamba Allah tersebut yang enggan mengikuti godaan iblis karena dia tahu bahwa malaikat Izrail (malaikat maut) senantiasa mengintai dirinya, diapun senantiasa menjaga dirinya dari berbuat dosa.

Oleh Elvi Zulhailina

Oleh: aahakim | Februari 18, 2009

Membentuk Prilaku Positif Anak

azzamaqiqah1Sebagai orangtua, kita seharusnya menyadari bahwa anak merupakan amanah Allah kepada orangtua. Orangtua yang sadar akan tanggungjawab ini akan menerima amanah ini sebagai salahsatu ibadah yang amat besar di hadapan Allah Swt. Sebaliknya, anak akan menjadi fitnah yang teramat besar bagi kedua orangtua yang tidak mampu mengembannya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci yakni Muslim). Kedua-dua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Bukhari)

Menurut Imam Al-Ghazali pula, anak adalah seperti sebutir batu permata yang belum diproses. Ibu bapalah yang akan membentuk dan membuatnya mengkilap sehingga menjadi berlian yang indah dan berkilauan. Jelas, ibu bapalah yang akan menentukan sama ada anak-anaknya “menjadi” atau tidak. Semua orangtua tentu menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi insan yang mulia. Tetapi banyak yang tidak tahu cara yang efektif untuk melakukannya.

Dua hal yang harus diperhatikan dalam mendidik anak:

  1. Orang tua perlu mengetahui bagaimana keperibadian terbentuk.
  2. Orang tua perlu mempunyai suatu nilai sebagai asas kepada kepribadian anaknya. Nilai ini adalah nilai keperibadian Islam dan anak-anak perlu dibesarkan sebagai Khalifah Allah. Dengan menggabungkan kedua hal di atas, orang tua akan dapat membentuk anak-anak yang akan menjadi insan yang meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Apakah faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian?

Faktor utama yang menentukan kepribadian seseorang ialah faktor lingkungan. Tiga faktor lingkungan yang mempengaruhi kepribadian individu:

  1. Lingkungan fisik (Prasarana dan fasilitas umum)
  2. lingkungan sosial (Komunikasi interpersonal ).  Lingkungan sosial yang berhubungan dengan sesama manusia, misalnya: orang tua (ibu dan Bapak), keluarga, teman, guru, lingkingan sekitar. Yang berhubungan dengan teknologi komunikasi dan hiburan modern ciptaan manusia, contohnya:   Televisi, Video,  Komputer, Musik.
  3. Kata hati (inner speech). Kata hati adalah perkara-perkara yang kita ungkapkan kepada diri kita sendiri. K ata hati berperanan untuk menentukan tingkah laku individu. Ia terbentuk melalui pengalaman dari pembelajaran masa lampau (Total Past Learning History) dan menentukan persepsi mengenai sesuatu perkara. Ia memainkan peran yang besar dalam membedakan antara yang baik dan buruk.

Pembentukan Kepribadian PERSEPSI atau TANGGAPAN

Persepsi menafsirkan informasi apa saja yang diterima dan bertindak sebagai penyaring. Persepsi setiap individu berbeda karena ia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (fisik, sosial dan kata hati) dan pembelajaran masa lampau (PML} individu yang bersangkutan. Orangtua perlu memastikan agar pembelajaran masa lampau (PML) anak-anak adalah positif:

  1. Watak seseorang bergantung kepada jenis input yang mereka terima, apakah berunsur positif ataupun negatif.
  2. Setiap input ini akan tertanam di dalam pemikiran mereka sebagai pembelajaran masa lampau (PML).
  3. PML menentukan watak seorang anak dan PML dipengaruhi oleh 3 faktor di mana faktor manusia dan kata hati adalah sangat penting.
  4. PML akan menentukan keperibadian, pemikiran, tingkah laku, dan segalanya tentang siapa kita.
  5. Sasaran kita adalah PML yang positif agar anak menjadi insan yang cemerlang. Tujuan orang tua adalah untuk membentuk kepribadian positif dalam anak-anak. Contoh kepribadian positif: taat pada Allah, saling mengasihi sesama manusia, hormat-menghormati, tenggang rasa,  sopan santun, saling menyayangi, rajin belajar,  istiqamah di dalam sesuatu pekerjaan.

Apakah jenis input yang perlu kita berikan untuk membentuk PML yang positif?

  1. Dengan memberi GANJARAN kepada setiap perkara positif (baik) yang dilakukan oleh anak.
  2. Dengan memberi GANJARAN setiap kali anak kita TIDAK melakukan perkara negatif (tidak baik).
  3. Hal ini disebut PENGARUH POSITIF TERARAH (directed positive influence)
  4. Pengaruh positif terarah bermaksud memberi ganjaran kepada anak kita setiap kali mereka melakukan perkara yang baik atau meninggalkan perkara yang dilarang serta menegur kesilapan mereka dengan cara yang baik apabila mereka melakukan sesuatu kesalahan.
  5. Dengan cara ini, mereka akan terdorong untuk terus melakukan kebaikan dan meninggalkan perkara yang tidak baik.

Bagaimanakah GANJARAN diberikan?

Ganjaran diberikan misalnya dengan memeri perhatian, penghormatan, pengakuan, pujian, motivasi, ungkapan terima kasih, ungkapan perkara baik yang dilakukan oleh anak, menunjukkan kasih sayang dengan perkataan dan perbuatan, memberi hadiah (tetapi tidak perlu terlalu sering), mengajak anak jalan-jalan. Anak-anak boleh diajarkan cara memberi ganjaran pada diri sendiri dengan menggunakan kata hati. Kata hati boleh mempengaruhi tindak tanduk seseorang secara positif atau negatif. Ia bergantung kepada PML dan persepsi individu. Didikan anak-anak dari kecil untuk menjadi Khalifah Allah akan memupuk pembentukan kata hati yang bersifat positif.

Oleh: aahakim | Februari 17, 2009

Semangat Menuju (Keluarga) Sakinah

Naufal, Azzam & UmmiKita saat ini ada di tengah arus deras pergeseran nilai sosial dalam masyarakat kita. Pergeseran nilai sosial tampak pada kecenderungan makin permisifnya keluarga-keluarga di masyarakat kita. Keluarga tidak lagi dilihat sebagai ikatan spiritual yang menjadi medium ibadah kepada Sang Pencipta. Kawin-cerai hanya dilihat sebatas proses formal sebagai kontrak sosial antara dua insan yang berbeda jenis. Perkawinan kehilangan makna sakral dimana Allah menjadi saksi atas ijab-kabul yang terjadi.

Ini bertolak belakang dengan adagium yang menyatakan keluarga adalah garda terdepan dalam membangun masa depan bangsa peradaban dunia. Dari rahim keluarga lahir berbagai gagasan perubahan dalam menata tatanan masyarakat yang lebih baik. Tidak ada satu bangsa pun yang maju dalam kondisi sosial keluarga yang kering spiritual, atau bahkan sama sekali sudah tidak lagi mengindahkan makna religiusitas dalam hidupnya. Karena itu, Al-Qur’an memuat ajaran tentang keluarga begitu komprehensif, mulai dari urusan komunikasi antar individu dalam keluarga hingga relasi sosial antar keluarga dalam masyarakat.

Banyak memang problema yang biasa dihadapi keluarga. Tidak sedikit keluarga yang menyerah atas “derita” yang sebetulnya diciptakannya sendiri. Di antaranya memilih perceraian sebagai penyelesaian. Kasus-kasus faktual tentang itu ada semua di masyarakat kita. Dan, masih banyak lagi kegelisahan yang melilit keluarga-keluarga di masyarakat kita. Namun, umumnya kegelisahan itu diakibatkan oleh menurunnya kemampuan mereka menemukan alternatif ketika menghadapi masalah yang tidak dikehendaki. Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mencari kunci yang bisa mengokohkan bangun keluarga kita dari hempasan arus zaman yang serba menggelisahkan. Dan, kata kunci itu adalah sakinah.

Makna Sakinah

Istilah “sakinah” digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Jadi, mudah dipahami memang jika istilah itu digunakan Al-Qur’an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah wa rahmah) di antara sesama anggotanya.

Di Al-Qur’an ada ayat yang memuat kata “sakinah”.

Pertama, surah Al-Baqarah ayat 248.

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat.”

Tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka. ayat di atas menyebut, di dalam peti tersebut terdapat ketenangan –yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut sakinah. Jadi, menurut ayat itu sakinah adalah tempat yang tenang, nyaman, aman, kondusif bagi penyimpanan sesuatu, termasuk tempat tinggal yang tenang bagi manusia.

Kedua, al-sakinah disebut dalam surah Al-Fath ayat 4.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Di ayat itu, kata sakinah diterjemahkan sebagai ketenangan yang sengaja Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. Ketenangan ini merupakan suasana psikologis yang melekat pada setiap individu yang mampu melakukannya. Ketenangan adalah suasana batin yang hanya bisa diciptakan sendiri. Tidak ada jaminan seseorang dapat menciptakan suasana tenang bagi orang lain.

Jadi, kata “sakinah” yang digunakan untuk menyifati kata “keluarga” merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus memberikan jaminan keselamatan akhirat. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarga. Keluarga menjadi tempat kembali ke mana pun anggotanya pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam masyarakat.

Dengan cara pandang itu, kita bisa pastikan bahwa akar kasus-kasus yang banyak melilit kehidupan keluarga di masyarakat kita adalah karena rumah sudah tidak lagi nyaman untuk dijadikan tempat kembali. Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah, demikian pula istri. Bahkan, anak-anak sekarang lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Maka, sakinah menjadi hajat kita semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan kenyamanan psikologis –meski kadang secara fisik tampak jauh di bawah standar nyaman.

Membangun Kenyamanan Keluarga

Kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama. Tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses panjang, setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penemuan itulah yang harus menjadi ruang untuk saling mencari keseimbangan. Makanya, keluarga sekolah yang tiada batas waktu. Di sama terjadi proses pembelajaran secara terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua belah pihak, baik suami-istri, maupun anak-orangtua.

Proses belajar itu akan mengungkap berbagai misteri keluarga. Lebih-lebih ketika kita akan belajar tentang baik-buruk kehidupan keluarga dan rumah tangga. Tidak banyak buku yang memberi solusi jitu atas problema keluarga. Sebab, ilmu membina keluarga lebih banyak diperoleh dari pengalaman. Maka tak heran jika keluarga sering diilustrasikan sebagai perahu yang berlayar melawan badai samudra. Kita dapat belajar dari pengalaman siapa pun. Pengalaman pribadi untuk tidak mengulangi kegagalan, atau juga pengalaman orang lain selama tidak merugikan pelaku pengalaman itu.

Masalah demi masalah yang dilalui dalam perjalanan sejak pertama kali menikah adalah pelajaran berharga. Kita dapat belajar dari pengalaman orang tentang memilih pasangan ideal, menelusuri kewajiban-kewajiban yang mengikat suami-istri, atau tentang penyelesaian masalah yang biasa dihadapi keluarga. Semuanya sulit kita dapat dari buku. Hanya kita temukan pada buku kehidupan. Bagaimana kita dapat memahami istri yang gemar buka rahasia, atau menghadapi suami yang berkemampuan seksual tidak biasa. Dan masih banyak lagi masalah keluarga yang seringkali sulit ditemukan jalan penyelesaiannya. Jadi, memang tepat jika rumah tangga itu diibaratkan perahu, sebab tak henti-hentinya menghadapi badai di tengah samudra luas kehidupan.

Rumah tangga juga dua sisi dari keping uang yang sama: bisa menjadi tambang derita yang menyengsarakan, sekaligus menjadi taman surga yang mencerahkan. Kedua sisi itu rapat berhimpitan satu sama lain. Sisi yang satu datang pada waktu tertentu, sedang sisi lainnya datang menyusul kemudian. Yang satu membawa petaka, yang lainnya mengajak tertawa. Tentu saja, siapa pun berharap rumah tangga yang dijalani adalah rumah tangga yang memancarkan pantulan cinta kasih dari setiap sudutnya. Rumah tangga yang benar-benar menghadirkan atmosfir surga: keindahan, kedamaian, dan keagungan. Ini adalah rumah tangga dengan seorang nakhoda yang pandai menyiasati perubahan.

Rumah menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui pengembaraan panjang di tempat mengadu nasibnya masing-masing. Hanya ada satu tempat kembali, baik bagi anak, ibu, maupun bapak, yaitu rumah yang mereka rasakan sebagai surga. Bayangkan, setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua, demikian pula sebaliknya. Betapa indahnya taman rumah tangga itu. Sebab, yang ada hanya cinta dan kebaikan. Kebaikan inilah yang sejatinya menjadi pakaian sehari-hari keluarga. Dengan pakaian ini pula rumah tangga akan melaju menempuh badai sebesar apapun. Betapa indahnya kehidupan ketika ia hanya berwajah kebaikan. Betapa bahagianya keluarga ketika ia hanya berwajah kebahagiaan.

Tetapi, kehidupan rumah tangga acapkali menghadirkan hal yang sebaliknya. Bukan kebaikan yang datang berkunjung, melainkan malapetaka yang kerap merundung. Suami menjadi bahan gunjingan istri, demikian pula sebaliknya. Anak tidak lagi merindukan orang tua, dan orang tua pun tidak lagi peduli akan masa depan anaknya. Bila sudah demikian halnya, bukan surga lagi yang datang, melainkan neraka yang siap untuk membakar. Benar, orang tua tidak punya hak membesarkan jiwa anak-anaknya, dan mereka hanya boleh membesarkan raganya. Tapi raga adalah cermin keharmonisan komunikasi yang akan berpengaruh pada masa depan jiwa dan kepribadian mereka.

Lunturnya Semangat Sakinah

Membangun sakinah dalam keluarga, memang tidak mudah. Ia merupakan bentangan proses yang sering menemui badai. Untuk menemukan formulanya pun bukan hal yang sederhana. Kasus-kasus keluarga yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran penting dan menjadi motif bagi kita untuk berusaha keras mewujudkan indahnya keluarga sakinah di rumah kita.

Ketika seseorang tersedu mengeluhkan sepenggal kalimat, “Suami saya akhir-akhir ini jarang pulang”, tidak sulit kita cerna maksud utama kalimatnya. Sebab, kita menemukan banyak kasus yang hampir sama, atau bahkan persis sama, dengan kasus yang menimpa wanita pengungkap penggalan kalimat tadi.

Penggalan kalimat di atas bukan satu-satunya masalah yang banyak dikeluhkan istri. Masih banyak. Tapi kalau ditelusuri akar masalahnya sama: “tidak tahan menghadapi godaan”. Godaan itu bisa datang kepada suami, bisa juga menggedor jagat batin istri. Karena godaan itu pula, siapa pun bisa membuat seribu satu alasan. Ada yang mengatakannya sudah tidak harmonis, tidak bisa saling memahami, ingin mendapat keturunan, atau tidak pernah cinta.

Payahnya, semakin hari godaan akibat pergeseran nilai sosial semakin menggelombang dan menghantam. Sementara, ketahanan keluarga semakin rapuh karena ketidakpastian pegangan. Maka, kita dapati kasus-kasus di mana seorang ibu kehilangan kepercayaan anak dan suaminya. Seorang bapak yang tidak lagi berwibawa di hadapan anak dan istrinya. Anak yang lebih erat dengan ikatan komunitas sebayanya. Bapak berebut otoritas dalam keluarga dengan istrinya, serta istri yang tidak berhenti memperjuangkan hak kesetaraan di hadapan suami. Semua punya argumentasi untuk membenarkan posisinya. Semua tidak merasa ada yang salah dengan semua kenyataan yang semakin memprihatinkan itu.

Tapi benarkah perubahan zaman menjadi sebab utama terjadinya pergeseran nilai dalam rumah tangga? Lalu, mengapa keluarga kita tidak lagi sanggup bertahan dengan norma-norma dan jati diri keluarga kita yang asli? Bukankah orang tua-orang tua kita telah membuktikan bahwa norma-norma yang mereka anut telah berhasil mengantarkan mereka membentuk keluarga normal dan berbudaya, bahkan berhasil membentuk diri kita yang seperti sekarang ini? Lantas, kenapa kita harus larut dengan segala riuh-gelisah perubahan zaman yang kadang membingungkan?

Transformasi budaya memang tidak mudah, bahkan tidak mungkin, kita hindari. Arusnya deras masuk ke rumah kita lewat media informasi dan komunikasi. Kini, setiap sajian budaya yang kita konsumsi dari waktu ke waktu, diam-diam telah menjadi standar nilai masyarakat kita. Ukuran baik-buruk tidak lagi bersumber pada moralitas universal yang berlandaskan agama, tapi lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai artifisial yang dibentuk untuk tujuan pragmatis dan bahkan hedonis. Tanpa kita sadari, nilai-nilai itu kini telah membentuk perilaku sosial dan menjadi anutan keluarga dan masyarakat kita. Banyak problema keluarga yang muncul di sekitar kita umumnya menggambarkan kegelisahan yang diwarnai oleh semakin lunturnya nilai-nilai agama dan budaya masyarakat. Masyarakat kini seolah telah berubah menjadi “masyarakat baru” dengan wujud yang semakin kabur.

Gaya hidup remaja yang berujung pada fenomena MBA (married by accident) telah jadi model terbaru yang digemari banyak pasangan. Pernikahan yang dianjurkan Nabi menjadi jalan terakhir setelah menemukan jalan buntu. Sementara perceraian yang dibenci Nabi justru menjadi pilihan yang banyak ditempuh untuk menemukan solusi singkat. Kenyataan ini merupakan bagian kecil dari proses modernisasi kehidupan yang berlangsung tanpa kendali etika. Akibatnya, struktur fungsi yang sejatinya diperankan oleh masing-masing anggota keluarga tampak semakin kabur.

Seorang anak kehilangan pegangan. Ibu-bapaknya terlalu sibuk untuk sekadar menyapa anak-anaknya. Anak pun dewasa dengan harus menemukan jalan hidupnya sendiri. Mencari sendiri ke mana harus memperoleh pengetahuan, dan harus mendiskusikan sendiri siapa calon pendampingnya. Semuanya berjalan sendiri-sendiri. Padahal, jika sendi-sendi keluarga itu telah kehilangan daya perekatnya dan masing-masing telah menemukan jalan hidupnya yang berbeda-beda, maka bangunan “baiti jannati”, rumahku adalah surgaku, akan semakin menjauh dari kenyataan. Itu menjadi mimpi yang semakin sulit terwujud. Bahkan, menjadi mimpi yang tidak pernah terpikirkan. Yang ada hanyalah “neraka” yang tidak henti-hentinya membakar suasana rumah tangga.

Satu lagi yang sering menjadi akar bencana keluarga, yaitu anak. Dunia anak adalah dunia yang lebih banyak diwarnai oleh proses pencarian untuk menemukan apa-apa yang menurut perasaan dan pikirannya ideal. Dunia ideal sendiri, baginya, adalah dunia yang ada di depan matanya, yang karenanya ia akan melakukan pengejaran atas dasar kehendak pribadi. Akan tetapi, di sisi lain, perkembangan psikologis yang sedang dilaluinya juga masih belum mampu memberikan alternatif secara matang terutama berkaitan dengan standar nilai yang dikehendakinya. Karena itu, selama proses yang dilaluinya, hampir selalu ditemukan berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat di mana anak itu berkembang. Di sinilah proses bimbingan itu diperlukan, terutama dalam ikut menemukan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan.

Guru di sekolah ataupun orang tua di rumah, secara tidak sadar, seringkali menjadi sosok yang begitu dominan dalam menentukan masa depan anak. Padahal, guru ataupun orang tua bukanlah segala-galanya bagi perkembangan dan masa depan anak. Proses pendidikan, dengan demikian, pada dasarnya merupakan proses bimbingan yang memerdekakan sekaligus mencerahkan. Proses seperti itu berlangsung alamiah dalam kehidupan yang bebas dari ikatan-ikatan yang justru tidak mendidik. Dalam kerangka seperti inilah, maka keluarga bisa berperan sebagai lembaga yang membimbing dan mencerahkan, atau juga sebaliknya. Jika tidak tepat memainkan peran yang sesungguhnya, bisa saja berfungsi sebagai penjara yang hanya mampu menanamkan disiplin semu. Anak-anak bisa menjadi manusia yang paling shalih di rumah, tetapi menjadi binatang liar ketika keluar dari dinding-dinding rumah dan terbebas dari pengawasan orang tua.

Dalam situasi seperti inilah, anak mulai mencari kesempatan untuk memenuhi kebuntuan komunikasi yang dirasakannya semakin kering dan terbatas. Sebab berkomunikasi untuk saling menyambungkan rasa antar anggota keluarga merupakan kebutuhan dasar yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Konsekuensinya, ketidaktersediaan aspek ini dalam keluarga dapat berakibat pada munculnya ketidakseimbangan psikologi yang pada gilirannya dapat saja mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial seperti apa yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Inilah di antara kerusakan akibat lunturnya atmosfir sakinah dalam keluarga.

Sumber: www.dakwatuna.com

Oleh: aahakim | Februari 16, 2009

Indahnya Kebersamaan

Ketika kita berkumpul terasa sekali indahnya kebersamaan. Kita akan merasakan bagaimana Allah Swt memberi nikmatNya atas kasih sayang dan cintaNYA. Kita mungkin akan merasa rindu yang sangat tatkala terjadinya perpisahan dalam ruang gerak dan waktu.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.